Bahan pakan sumber protein (Klas 5) adalah bahan pakan:

  • Serat kasar <18%
  • Protein kasar >20%
  • Bahan pakan ini dapat merupakan sumber protein:
  1. Protein nabati,berasal dari tanaman: Kacang-kacangan, Bungkil (hasil ikutan pabrik minyak tanaman)
  2. Protein hewani

Sumber Protein Asal Tanaman

Kacang-kacangan
Kacang Kedele (Glycine max) Tertinggi nilainya sebagai bahan pakan, karena kadar PK dan asam amino essensialnya tinggi

Protein kedelai disebut glycinine; susunannya mendekati protein susu → caseine dari tanaman

Glycinine → kandungan lycine & trypthopan tinggi

Untuk unggas, sapi perah, babi Pada babi → lemak lunak

Penyimpanan kacang kedelai, kadar air <15%

Pemberian: dipecah / digiling

Untuk sapi: tidak perlu dipanaskan dulu

Untuk unggas & babi: harus dipanaskan untuk menghilangkan faktor penurunan nilai pakan

Pemberian pada sapi dalam jumlah banyak: perlu ditambah vitamin A

Kedelai yang telah ditumbuk tidak dapat disimpan dalam iklim panas

Kedelai mengandung: Tripsin inhibitor

Untuk mencegah aktivitas enzim pencernaan trypsin, biji kedele mentah dipanaskan, tetapi jangan terlalu panas & lama, karena akan merusak asam amino essensial

Urease: enzim yang dapat melepaskan amonia dari urea → kedelai mentah sebaiknya tidak diberikan ternak bersama urea

Hasil analisis:

BK       =          88%     EE       =          16%

PK       =          38%     Abu      =          5,8%

SK       =          8%       ETN     =          32%

Kacang Tanah (Arachis hypogaea) Tertinggi kadar lemaknya di antara kacang-kacangan

Harga mahal → jarang diberikan ke ternak → konsumsi manusia

Kacang tanah berjamur → toksik (beracun)

Aflatoxin pada kacang tanah

Aflatoxin, dihasilkan oleh jamur Aspergilus flavus ditandai kacang akan hilang warna → pucat / putih

Jamur tumbuh pada temperatur 30 – 35 oC

Bila kedap air:

kacang: >9%

bungkil: >15%

Pencegahan: Saat panen jangan pecah / rusak dan segera dikeringkan → disimpan dalam kelembaban rendah

Komposisi kimia

BK       :           92%     EE      :           48%

PK       :           33%     Abu      :           2,6%

SK       :           1,8%    ETN     :           15%

Bungkil

Adalah hasil ikutan prosessing biji-bijian, khususnya kacang-kacangan setelah diambil minyaknya

Yang tertinggal:

protein kasar (PK)

serat kasar (SK)

beberapa pati

mineral

Kandungan PK bungkil lebih tinggi daripada bahan asalnya

PK bungkil asal kacang-kacangan lebih baik daripada asal biji-bijian (cerealia)

Kualitas bungkil tergantung prosessing (banyak-sedikitnya minyak yang tertinggal serta kemurnian bahan asal

Prosessing:

pengepresan (mekanik) → hidrolik atau manual

pakai pelarut lemak (solvent)

Bungkil Kacang Tanah

Merupakan hasil ikutan pabrik minyak kacang tanah

Hanya di daerah tertentu penghasil minyak/bungkil kacang tanah

Defisiensi lysin

Selain untuk bahan pakan babi juga untuk sapi & unggas

Media yang baik untuk tumbuhnya Aspergilus flavus → aflatoxin B & G (Blue & Green)

Yang paling hebat: B1 bersifat karsinogenik

Pada babi disebut mikotoksin:

kulit pucat

nafsu makan turun

enzim alkali fosfatase dalam serum naik → dapat mereduksi konsentrasi vitamin A dalam hati → hati pucat (diskolorisasi)

Komposisi Kimia

BK       : 84%               EE       :           12,5%

PK       : 40,1%            Abu      :           6,2%

SK       : 8,3%              ETN     :           32,9%

Bungkil Kedelai (Glycine max, Glycine soya)

Hasil ikutan pabrik minyak kedelai

Terbaik kualitasnya diantara macam bungkil karena asam amino glycine

Daerah-daerah tertentu penghasil bungkil

Untuk ternak babi lebih baik dimasak dahulu

→ dapat menyebabkan  lemak lembek bila

diberikan > 10% dalam ransum

→ anti trypsin

→ Hemoglutinin

→ aglutinasi (penggumpal)

sel darah merah (in vitro)

Komposisi kimia

BK       :           84,8%  EE      :           5,2%

PK       :           46,7%  Abu     :           7,4%

SK       :           7%       BETN :           33,7%

Bungkil Kelapa(Cocos nucifera)

Hasil ikutan ekstraksi daging kelapa kering (kopra)

Lebih mudah didapat

Defisiensi lysin

Minyak 1 – 22%

1000 kelapa → 180 kg kopra → 110 kg minyak; 55 kg bungkil

Terlalu lama disimpan dan >> minyak → dapat terjadi ketengikan (ransiditas) → diare

Pada sapi perah → lemak susu tinggi

Untuk sapi: 1,5 – 2 kg/hari

Untuk ransum babi tidak lebih dari 20% → lemak tubuh lembek

Komposisi kimia

BK       :           89,6%  EE      :           10,6%

PK       :           20,8%  Abu     :           4,8%

SK       :           25,8%  BETN :           39,1%

Bungkil Kelapa Sawit Atau palm kernel cake (Elaeis guineensin)

Merupakan hasil ikutan pabrik minyak sawit

Banyak terdapat di Sumatera

Ada 2 macam bungkil kelapa sawit:

Bungkil kelapa sawit berikut kernelnya

Bungkil inti sawit

Untuk:

sapi perah → susu

babi → lemak tubuh keras

Komposisi kimia

BK       :           89,6%  EE       :           10,6%

PK       :           19,7%  Abu      :           4,8%

SK       :           4,8%    BETN :           39,1 %

 Bungkil Biji Kapok (Ceiba pentandra)

1 pohon → ± 500 buah (umur ±7 tahun)

Tidak mengandung gossipol, tetapi cyclopropenoid

Ayam → 2% dalam campuran ransum

Bila >2% → laju pertumbuhan ↓

daya tetas telur ↓

Komposisi Kimia

BK       :           83,9%  EE      :           6,7%

PK       :           32,6%  Abu     :           8,3%

SK       :           30,2%  ETN    :           22,2%

 

 Bungkil Wijen (Sesamum orientale )

Kandungan PK tinggi

Jarang diberikan ke ternak, tetapi untuk manusia

Baik untuk sapi & babi

Babi → lemak tubuh menjadi lunak

Komposisi kimia

BK       :           93,5%  EE       :           13,5%

PK       :           42,4%  Abu      :           12,8%

SK       :           6,5%    ETN     :           24,8%

Konsentrat Protein Daun(Leaf concentrate protein)

Diperoleh dengan menggiling daun & mengepres hasil gilingan daun sampai keluar airnya

Diamkan sehingga terjadi penjendalan, keringkan & giling

Kandungan PK sampai 40%; dapat sebagai substitusi tepung ikan

Sumber Protein Asal Hewani

Digunakan sebagai pelengkap pakan monogastrik yang pakan basalnya dari bijian / tumbuhan (nabati)

Menyeimbangkan asam amino (lysin, methionine, trypsin) dan vitamin B12, Ca dan P

Perlu untuk monogastrik

Untuk herbivora, terutama ruminansia, tidak perlu

Harga mahal (jumlah kecil)

Unidentified growth & hatchability factors

Asal Ternak

Susu

Terutama diberikan sewaktu belum disapih

Sumber protein, vitamin, mineral, dan laktosa

Komposisi kimia:

BK       :12%   EE        :25%

PK       :29,2%            Abu     :5,8%

SK        : –         BETN  :40,0%

 Tepung Hewan

Bahan baku berasal dari sisa-sisa pemotongan ternak di RPH

Sumber protein & mineral

Terutama untuk unggas & babi

Susunan nutrien bervariasi, tergantung bahan bakunya

Tepung Daging (Meat Meal)

Bahan bakunya seperti tepung hewan, sisa-sisa daging

Belum banyak diusahakan

Sumber protein & vitamin B12

Komposisi kimia:

            BK       :91,8%            EE        :12,3%

            PK       :87,3%            Abu     :0,4%

            SK        :-          BETN  :-

 Tepung Darah(Blood Meal)

Bahan baku diperoleh di rumah potong

Sumber protein

Defisiensi isoleusin, arginine, methionine

Ca & P rendah

Volume darah ternak 7 – 9% BB

Pemakaian 2 – 3% dalam ransum

Komposisi kimia:

            BK       :90%   EE        :1,8%

            PK       :93,5%            Abu     :4,7%

            SK        :-          BETN :-

 Tepung Daging Tulang (Meat Bone Meal)

Dibuat dari ternak afkir dari peternakan besar( misal: Australia)

Selain mengandung tepung tulang, kandungan gizi juga tergantung pada cara pengolahan:

direbus → kadar PKnya masih tinggi

dibakar → hanya tinggal mineralnya

Asal Ikan

Tepung Ikan

Bahan baku ikan laut / tawar atau sisa-sisanya

Kualitas tergantung macam ikan dan pengolahan

Kebanyakan untuk ransum unggas, tidak lebih dari 10%

AA: arginin, glycine, leucine, valine

Komposisi kimia:

            BK       : 84,6%EE       :10,2%

            PK       :74,8%            Abu     :14,2%

            SK        :0,6%  ETN     :0,2%

Kualitas tepung ikan ditentukan cara pengolahan, diekstraksi atau tidak, mengingat kandungan EE bahan baku bervariasi

Tipe Ikan:

a. Low oil – low protein

<5%    <15%

b. Low oil – high protein

5%      15 – 20%

c. Low oil – very high protein

<5%    >20%

d. Medium oil – high protein

5 – 15%     15 – 20%

e. High oil – low protein

>15%  <15%

Tepung Udang

Bahan baku kebanyakan dari kepala dan kulit udang (udang laut / tawar)

Tepung udang jarang tersedia

Kepala udang ±44% seekor udang

Kandungan mineral tinggi

Komposisi kimia:

            BK       :85,6%            EE        :3,2%

            PK       :54,2%            Abu     :29,3%

            SK        :13,3%            ETN     :–

PK kepala udang mengandung chitin yang tidak tercerna

Udang keseluruhan (whole) mengandung ±10% chitin

Kepala & cangkang mengandung ±50% chitin

Bulu

Hasil bulu 16% dari poultry; dapat digunakan sebagai sumber protein

Protein bulu disebut: keratin; mengandung 14 – 15% cystine, sangat sukar larut & dicerna

→ dihidrolisis dulu, dimasak dengan autoclav dengan tekanan uap 15 – 20 lb selama 1 jam (345 kPa)

→ dikeringkan dan digiling → kecernaan mencapai 70 – 80%

Autoclaving menurunkan cystine 5 – 6%

Defisiensi: lysine, methionine, tryptophan

Komposisi kimia bulu yang telah dihidrolisis:

            BK       :93%   EE        :3,9%

            PK       :91,4%            Abu     :3,8%

            SK        :0,4%  ETN     :0.5%

 Limbah Pemotongan Ternak

Isi Rumen

Limbah pemotongan ternak ruminansia

Isi rumen sapi berat 350 kg → ±30 kg → dikeringkan, dibuat silage

Dapat dipres, filtratnya dikeringkan untuk pakan unggas, sedangkan residunya (ampas) dapat digunakan untuk pakan ruminansia

Hasil Peternakan Ayam

Hasil dari peternakan ayam ada 2:

  1. Kotoran ayam (poultry manure).

→ dikeringkan dapat untuk campuran makanan ternak (dried poultry manure = DPM)

  1. Kotoran ayam bercampur bulu dll. (poultry waste)

→ dikeringkan untuk campuran      makanan ternak (dried poultry        waste = DPW)

  1. Single Cell Protein

Merupakan protein (biomass) yang diproduksi cepat per satuan waktu

N anorganik (NPN) + sumber energi (KH non struktural) → protein (N organik)

Biaya instalasi mahal → hindari kontaminasi bakteri patogen / toksik

Nilai biologis protein rendah, karena terdiri atas asam nukleat, kecernaan rendah (monogastrik)

Penggunaan: babi 10 – 15 %, unggas 20%, milk replacer >25%

a. Bakteri

Misal: Methanomonas methanica S.

Methan sebagai sumber energi + air + mineral + urea + udara → biomassa

Penanganan limbah → produksi 12 g SCP basah/3 hari/liter

b. Algae

Misal: Chlorela vulgaris (medium asam)

Pemisahan centrifugasi,  spirulina maxima (medium garam, alkalis)

Penyaringan (14 g kering/m2/hari)

c. Yeast

Misal: Petroleum yeast → Candida lypolytica

Parafin sisa pemurnian minyak difermentasikan (1,6 g/l; CP 64%)

Minyak mentah → 10% parafin + 90 % minyak difermentasikan, pemisahan centrifugasi (CP 69%)