Pengamatan Fisik

Berdasarkan pengamatan fisik, meliputi  pengamatan tekstur, warna, bau, dan rasa dapat diketahui jenis pakan yang digunakan dalam praktikum. Hasil pengamatan fisik pada sampel terangkum dalam tabel 1.

Tabel 1. Pengamatan fisik

Parameter

Pengamatan

Tekstur

Lembut  menggumpal

Warna

Kuning kecoklatan

Bau

Bau pellet ikan

Rasa

Asin,pahit

Berdasarkan pengamatan fisik tekstur dapat diketahui bahwa sampel yang digunakan mempunyai tekstur yang lembut menggumpal, warna sampel yang digunakan berwarna kuning kecoklatan, bau sampel yang digunakan berbau seperti bau pelet ikan, dan mempunyai rasa asin dan pahit. Berdasarkan pengamatan tersebut sampel yang digunakan dalam praktikum ini adalah tepung ikan. Bau dan warna, uji rasa bisa digunakan untuk mendeteksi kualitas. Jika rasa tepung ikan sama seperti asinnya masakan, maka diprediksikan kadar garamnya sekitar 2 sampai 3% (Anonim, 2011).

Tepung ikan. Tepung ikan (Fish meal) adalah salah satu bahan pakan konsentrat sumber protein. Ikan digiling, dimasak dan diproses untuk menghasilkan presscake, soluble ikan, dan minyak. Produk akhir tepung ikan adalah tepung presscake, tepung utuh (semua soluble dicampur lagi ke presscake) atau beberapa kombinasi presscake dan soluble (Agus, 2008). Tabel 2 memperlihatkan hasil analisis kandungan proksimat dari tepung ikan menurut Darsudi (2011).

 Tabel 2. Kandungan nutrisi tepung ikan

Parameter

Pengamatan

Bahan kering

Air

Abu

Lemak kasar

Protein kasar

Serat kasar

ETN

93%

7,00%

17,93%

6,89%

59,58%

4,48%

4,12%

(Darsudi, 2011)

Syarat mutlak dari bahan baku ransum ialah tidak mengandung rancun (toksik) yang dapat mengganggu kesehatan dan produktivitas ayam. Zat anti nutrisi pada pakan seringkali menjadi faktor penghambat dalam pemakaian bahan baku alternatif. Jenis zat anti nutrisi yang terdapat dalam bahan baku tepung ikan adalah Gizzerosine dan histamine. Perkembangan teknologi pakan, bisa ditekan atau bahkan beberapa dapat dihilangkan permasalahan anti nutrisi ini. Teknologi yang biasa diterapkan antara lain pemberian enzim, fermentasi maupun perlakuan kimia dan biologi lainnya (Anonim, 2008).

Tepung ikan yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak harus distabilkan dengan antioksidan seperti ethoxyquin untuk mencegah minyak menjadi tengik. Protein pada tepung ikan memiliki nilai bypass rumen yang tinggi karena kaya lisin, asam amino esensial dan methionine. Karena itu cukup baik bila dicampur alfafa atau silase rumput muda, yang biasanya mengandung protein terdegradasi dalam rumen dalam jumlah tinggi. Tepung ikan harus diberikan sedikit demi sedikit untuk menghidari penolakan oleh ternak. Pemberian tepung ikan yang terbaik adalah pada laktasi awal ketika protein sangat dibutuhkan (Agus, 2008).

Tepung ikan umumnya dalam formula ransum unggas komersial, baik itu ayam raas, itik atau burung puyuh. Tepung ikan terdapat pada ransum bagi unggas yang berproduksi tinggi. Pemakaian tepung ikan dalam ransum ayam ras, oleh para ahli makanan unggas Negara barat selalu dibatasi di bawah 10% (Rasyaf, 1990).

Menurut Kamal (1998), tepung ikan termasuk bahan pakan yang cukup mahal harganya, oleh karena itu penggunaanya hanya umtuk ternak non-ruminansia yang omnivora (babi, unggas) dan merupakan bahan pakan standar bagi kedua jenis ternak tersebut yang gunanya untuk memenuhi kekurangan asam amino esensial di dalam ransumnya. Penggunaan tepung ikan di dalam ransum akan menunjukkan respon yang lebih baik dari pada menggunakan konsentrat protein yang lain.penggunaan di dalam ransum babi cukup sekitar 7%, dan di dalam ransum unggas sekitar 10% untuk massa pertumbuhan, 8% untuk masa akhir ayam daging, dan 5 sampai 6% untuk masa produksi telur. Penggunaan tepung ikan di dalam ransum unggas dengan aras yang tinggi akan dapat mengakibatkan bau amis atau anyir pada daging atau telur yang dihasilkannya.

Analisis Proksimat

Analisis proksimat atau analisis Weende dikembangkan dari Weende Experiment Station di Jerman oleh Henneberg dan Stokman pada tahun 1865, yaitu suatu metode analisis dan menggolongkan komponen yang ada pada makanan. Cara ini dipakai hampir di seluruh dunia dan disebut “analisis proksimat” (proximate analysis). Analisis ini didasarkan atas komposisi susunan kimia dan kegunaannya (Tillman et al., 1998). Hasil pengamatan analisis prosimat pada sampel terangkum dalam tabel 2 berikut:

Tabel 2. Analisis kimia (proksimat)

Parameter

Pengamatan

     I                    II               rata-rata
Bahan kering % 86,69 %          78,18 %      82,44 %
Protein kasar %Serat kasar % 20,68 %           17,92 %       19,3%11,19 %          19,18 %      15,19 %
Lemak kasar % 12,90 %          19,18 %      16,04 %
Abu % 11,49 %          12,14 %      11,82 %
BETN % 43,74 %          31,58 %      37,66 %
Total 100 %              100%         100 %

Penetapan kadar air. Air yang terkandung di dalam tepung ikan akan menguap seluruhnya apabila bahan tersebut dipanaskan selama beberapa waktu pada suhu 105 sampai 110 0C dengan tekanan udara bebas.  Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah silica disk yang berfungsi sebagai tempat sampel yang tidak mudah rusak karena memiliki titik leleh lebih dari 1000oC sehingga dapat digunakan dalam menentukan analisis proksimat dan merusak sampel pada suhu yang tinggi, desikator yang berfungsi sebagai penstabil suhu, silica gel berfungsi menyerap air. Alat lain yang digunakan adalah oven (105 sampai 110 0C), yang berfungsi untuk menguapkan seluruh air yang terdapat dalam sampel, tang penjepit untuk mengeluarkan silica disk dari dalam oven, dan timbangan analitik yang digunakan untuk menimbang sampel baik yang belum atau sudah di oven ataupun untuk menimbang silica disk. Berdasarkan data-data yang diperoleh, maka kadar air dapat dihitung dengan mejumlah bobot gelas timbang dan bobot cuplikan kemudian dikurangi bobot gelas timbang dan cuplikan setelah dioven 105 sampai 110oC, kemudian dikali 100% dan dibagi bobot cuplikan pakan.

Hasil penetapan kadar air dari kelompok empat dalam sampel yang digunakan adalah 13,31%, sedangkan kadar air kelompok satu adalah 21,819%, sehingga rata-rata kadar air dari tepung ikan adalah 17,56 %. Karena air yang terkandung dalam suatu bahan pakan akan menguap seluruhnya apabila bahan tersebut dipanaskan selama beberapa waktu pada suhu 105 sampai 110 0C dengan tekanan udara bebas. Menurut Darsudi (2011), kadar air tepung ikan sebesar 7%, perbedaan kadar air karena dipengaruhi kandungan air pada tepung ikan yang digunakan tercampur dengan air yang berlebih. Faktor yang mempengaruhi kadar air dalam suatu bahan pakan adalah cara penyimpanan, iklim tempat penyimpanan kemasan dan jenis ikan. Proses pembuatan tepung ikan juga mempengaruhi kualitas nutrisi tepung ikan. Pengeringan dan lama pengeringan juga mempengaruhi kualitas tepung ikan (Rasyaf, 1992)

Sampel makanan ditimbang dan diletakan dalam cawan khusus dan dipanaskan dalam oven pada temperatur 105 0C. Pemanasan berjalan hingga sampel sudah tidak lagi turun beratnya. Setelah pemanasan tersebut sampel makanan disebut “sampel bahan kering” dan pengurangannya dengan sampel makanan tadi disebut persen air atau kadar airnya (Tillman et al., 1998)

Penetapan kadar abu. Menurut Anggorodi (1990), abu merupakan zat-zat mineral sebagai suatu golongan dalam bahan makanan atau jaringan hewan ditentukan dengan membakar zat-zat organik dan kemudian menimbang sisanya. Suatu bahan pakan bila dibakar pada suhu 550 sampai 600OC selama beberapa waktu maka semua zat organiknya akan terbakar sempura menghasilkan oksida yang menguap yaitu berupa CO2, H2O dan gas-gas lain, sedangkan yang tertinggal tidak menguap adalah oksida mineral atau yang disebut abu. Berdasarkan data-data yang diperoleh, maka kadar abu dapat dihitung dengan menghitung bobot sampel dan silica disk setelah ditanur 550 sampai 600oC, kemudian dikurangi bobot silica disk kosong sebelum ditenur dan dikali 100% dan dibagi bobot sampel sebelum ditanur.

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah silica disk, desikator, tang penjepit, oven pengering, timbangan analitik, dan tanur (550oC sampai 600oC ) yang berfungsi untuk membakar bahan organik secara sempurna. Hasil penetapan kadar abu dalam sampel kelompok empat yaitu 11,497 % sedangkan kelompok satu yaitu 12,1384% sehingga diperoleh rata-rata kadar abu dari tepung ikan adalah 11,82 %. Kadar abu  menurut Darsudi (1990) sebesar 17,93%. Menurut Rasyaf (1992), proses pengeringan pada pembuatan tepung ikan yaitu pengeringan matahari, pengeringan vacuum, pengeringan dengan uap panas dan pengeringan dengan api pijar sesaat. Pengeringan dan lama pengeringan mempengaruhi kualitas tepung ikan. Seluruh senyawa organiknya akan terbakar menjadi CO2 dan H2O dan gas lain yang menguap, sedang sisanya adalah abu atau campuran dari berbagai oksida mineral sesuai dengan macam mineral yang terkandung di dalamnya. Abu hasil pembakaran dapat digunakan sebagai titik tolak untuk determinasi persentase zat-zat tertentu yang terdapat dalam bahan pakan (Anggorodi, 1990).

Penetapan kadar serat kasar. Menurut Tillman et al., (1998), perbedaan antara berat endapan sebelum dibakar dan berat abu disebut serat kasar. Serat kasar adalah bahan organik yang tidak larut saat dihidrolisis dengan H2SO4 1,25% dan NaOH 1,25%. Perebusan dengan menggunakan H2SO4 1,25% setelah itu diberi NaOH 1,25% supaya suasananya asam menjadi basa sesuai dengan suasana pencernaan pada ruminansia yang di dalam rumen yang asam dan usus halus suasana basa.

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah beaker glass 600ml, desikator, tang penjepit, timbangan analitik, tanur  (550oC sampai 600oC), pemanas untuk mendidihkan campuran bahan dalam beaker glass, saringan linen yang berfungsi untuk menyaring bahan organik yang tertinggal, gelas arloji, glass wool dan gooch crucible yang berfungsi sebagai penyaring bahan organik yang tertinggal. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah H2SO4 1,25% (0,255N) yang berfungsi untuk menghidrolisis karbohidrat dan protein, NaOH 1,25% (0,313N) yang berfungsi untuk penyabunan lemak, dan ethyl alkohol 95%. Semua senyawa organik kecuali serat kasar akan larut bila direbus dalam H2SO4 1,25% (0,255N) dan NaOH 1,25% (0,313N)  yang berurutan masing-masing selama 30 menit. Bahan organik yang tertinggal disaring dengan glass wool dan gooch crucible. Hilangnya bobot setelah dibakar  550oC sampai 600oC adalah serat kasar. Berdasarkan data-data yang diperoleh, maka kadar serat kasar dapat dihitung dengan menghitung bobot sampel setelah dioven 105oC dikurangi bobot sisa pembakaran 550 sampai 600oC dan dikali 100% dan dibagi bobot sampel awal.

Hasil percobaan yang dilakukan dengan bahan tepung ikan kadar serat kasa yang diperoleh kelompok empat adalah 11,1927 % sementara kelompok satu memperoleh kadar abu nya sebesar 19,1792% sehingga diperoleh rata-rata kadar serat kasar adalah 15,19 %. Menurut Darsudi (2011), kadar serat kasar pada tepung ikan yaitu 4,48%. Menurut Rasyaf (1994), kualitas tepung ikan bervariasi berdasarkan macam ikan dan bagian mana yang dimasukkan ke dalam tepung ikan itu. Faktor yang membedakan kadar serat kasar yaitu asal usul tepung ikan, jenis ikan dan proses pembuatan tepung ikan.

Penetapan kadar protein kasar. Penentuan protein kasar dengan alat Kjeldahl. Analisis ini menggunakan asam sulfat dengan suatu katalisator dan pemanasan (Tillman et al., 1998). Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan analitik, labu kjeldahl 650 ml yang berfungsi sebagai tempat sampel pada saat destruksi dan destilasi, labu erlenmeyer sebagai tempat penampung sampel pada saat titrasi, gelas ukur 100 ml untuk mengukur reagensia yang digunakan, buret yang berfungsi sebagai tempat HCl pada saat titrasi, pipet volume 25 atau 50 ml untuk mengambil larutan reagensia yang digunakan, corong yang berfungsi untuk mempermudah dalam memasukkan larutan HCl ke dalam buret, alat destruksi yang berfungsi untuk melepaskan N-organik sampel, dan alat destilasi yang berfungsi untuk mendestilasi sampel.

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah H2SO4 pekat yang berfungsi untuk melepas N-organik dari sampel, CuSO4, K2SO4, dan kjeltab yang berfungsi sebagai katalisator, NaOH 50% yang berfungsi sebagai pensuasana basa, HCl 0,1 N, H3BO3 0,1 N yang berfungsi menangkap NH3 yang terlepas pada saat destilasi, indikator mix yang berfungsi sebagai indikator warna, dan Zn logam yang berfungsi untuk mencegah terjadinya superheating ataupun pemercikan cairan atau timbulnya gelembung gas yang besar.

Kadar protein kasar =

Keterangan :        x = jumlah titrasi sampel (ml)

y = jumlah titrasi blanko (ml)

N = normalitas HCl

z = bobot sample

Hasil penetapan kadar protein kasar dalam sampel yang digunakan adalah 20,68 % sementara kelompok satu memperoleh kadar protein kasar sebesar 17,9246% sehingga rata-rata protein kasar tepung ikan adalah 19,3%. Menurut Darsudi (2011), kadar protein kasar 59,58%. Menurut Rasyaf (1994), berdasarkan kadar protein kasar yang dihitung berbeda dengan literatur karena tepung ikan yang digunakan berasal dari jenis ikan yang berbeda. Protein kasar asal ikan herring yang tertinggi dan yang terendah dari ikan tuna. Kandungan protein kasar yang menengah berasal dari ikan menhaden dan sarden.

Penetapan kadar lemak kasar. Lemak kasar merupakan campuran dari berbagai senyawa yang larut dalam pelarut lemak. Menurut Tillman et al., (1998), sampel bahan kering diekstrasi dengan etil eter selama beberapa jam, maka bahan yang didapatkan adalah lemak, eter akan menguap. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan analitik, tang penjepit, oven pengering, desikator, seperangkat alat ekstraksi dan selongsong dari soxhlet  yang berfungsi untuk ekstraksi lemak, labu penampung yang berfungsi menampung sisa petroleum benzene yang jatuh dari soxhlet , alat pendingin yang berfungsi untuk mengkondensari uap hasil penguapan petroleum benzen agar tidak mencemari lingkungan, dan kertas saring bebas lemak yang berfungsi untuk menyaring ekstrak.

Berdasarkan data-data yang diperoleh, maka kadar lemak kasar dapat dihitung dengan menghitung bobot sampel dan kertas saring bebas lemak setelah oven 105°C (sebelum diekstraksi), kemudian dikurangi bobot sampel dan kertas saring bebas lemak setelah oven 105°C (setelah diekstraksi) dan dikali 100% dan dibagi bobot sampel sebelum ditanur. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah petroleum benzene yang berfungsi sebagai pelarut lemak. Hasil penetapan kadar lemak kasar kelompok empat dalam tepung ikan  yang digunakan adalah 12,90 % sedangkan kadar lemak kasar kelompok satu sebesar 19,18 % sehingga kadar rata-rata lemak kasar 16,04 %. Menurut Darsudi (2011), besar kadar lemak kasar pada tepung ikan 6,89%. Perbedaan penghitungan dengan literatur karena kualitas tepung ikan bervariasi, tergantung dengan macam ikan, bagian mana yang digunakan dalam pembuatan tepung ikan dan proses pembuatan tepung ikan.

Penetapan kadar ekstrak tanpa nitrogen (ETN). Menurut Darsudi (2008), hasil analisis proksimat pada tepung ikan yaitu kadar air 7,00%, kadar abu 17,93%, kadar lemak 6,89%, kadar protein 59,58% dan kadar serat 4,48%, sehingga ETN yang diperoleh dari mengurangi sempel bahan kering dengan semua komponen – komponen air, serat kasar, lemak, protein dan abu. Besar ETN dari tepung ikan adalah 4,12%. Menurut Rasyaf (1994), kualitas tepung ikan bervariasi berdasarkan macam ikan dan bagian mana yang dimasukkan ke dalam tepung ikan itu. Faktor yang membedakan kadar serat kasar yaitu asal usul tepung ikan, jenis ikan dan proses pembuatan tepung ikan.